Waduh Ekonomi Sumbar Meredup

 



Oleh: Prof Werry Darta Taifur (Akademisi Senior UNAND)


KEADAAN ekonomi, sosial dan lingkungan alam Sumbar nan sarupo iko kini bukan tanpa alarm sebelumnya. 


Masalah ekonomi Sumbar 2018 sudah diingatkan  semenjak tahun 2018 bahwa pertumbuhan ekonomi Sumbar akan terus melambat karena struktur ekonomi Sumbar yang  didominasi sektor pertanian yang sudah melampaui daya dukungnya. 


Kemudian investasi besar untuk hilirisasi tidak mungkin ada di Sumbar. 


Maka pengembangan dan peningkatan daya  saing industri dan menengah menjadi semakin urgen di samping menggarap potensi kawasan pesisir dan laut. 


Oleh karena tidak ada yang difokuskan pada dua bidang terakhir selama 10 tahun terakhir, telah membuahkan hasil ekonomi Sumbar semakin redup. 


Tanpa bencana dan covid, ekonomi Sumbar tetap redup karena perlambatan itu semakin nyata dari tahun ke tahun. 


Kita (Sumbar,red) masih lebih suka serimoni dan mendapat atau mengerjar penghargaan daripada menyadari bahwa perlambatan pertumbuhan ekonomi yang semakin redup itu mengindikasikan terdapat masalah strukutral yang menghambat peningkatan produktivitas. 


Sudah berapa banyak serimoni ini dan itunya yang diperkirakan berdampak terhadap peningkatan ekonomi, he he heee berujung pada ketidak berlajutan. 


Sudah berapa banyak penghargaan dari pemerintah pusat yang diterima pemerintah provinsi dan kabupaten/ kota belum  berdampak terhadap peningkatan daya saing produk yang dihasilkan dan daya saing daerah sendiri. 


Setelah terjadi bencana alam di Sumbar pada minggu terakhir Noverber 2025 yang meluluh lantakan sumber produktif beberapa

daerah kabupate/ kota di Sumbar, lonjakan pertumbuhan ekonomi (rebound) akibat bantuan pemerintah  pusat dan  berbagai pihak. 


Tapi rebound  itu tidak didorong oleh kegiatan produksi. (***)

Posting Komentar

0 Komentar