Hari Jadi Polwan ke-78, Ditlantas Polda Sumbar Kampanyekan Stop Bullying: Lindungi Anak dari Dampak Psikologis

  


LENTERASUMBAR — Peringatan Hari Jadi Polisi Wanita (Polwan) ke-78 tahun 2026 tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang perjalanan panjang pengabdian Polwan dalam institusi Polri, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperkuat kepedulian terhadap berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat, khususnya anak-anak dan generasi muda.


Salah satu perhatian yang diangkat jajaran Ditlantas Polda Sumatera Barat adalah persoalan perundungan atau bullying yang masih menjadi ancaman serius bagi tumbuh kembang anak.


Melalui pesan yang disampaikan dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Polwan ke-78, Ditlantas Polda Sumbar mengingatkan masyarakat bahwa bullying bukan sekadar candaan atau bentuk kenakalan biasa. Perilaku tersebut dapat meninggalkan dampak yang panjang terhadap kondisi psikologis, rasa percaya diri, lingkungan sosial, hingga masa depan anak.


Pesan tersebut juga menegaskan pentingnya kehadiran kepolisian untuk memberikan perlindungan, pendampingan, sekaligus menciptakan rasa aman bagi anak-anak.


“Bullying bukan sekadar candaan, tetapi dapat melukai kesehatan mental dan masa depan anak,” demikian pesan yang disampaikan Ditlantas Polda Sumbar dalam kampanye tersebut.


Pesan itu menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bersama bahwa pencegahan bullying tidak dapat hanya dibebankan kepada pihak sekolah maupun kepolisian.

 

Dibutuhkan keterlibatan orang tua, guru, lingkungan pergaulan, serta seluruh elemen masyarakat.


Polwan Hadir untuk Mendengar dan Melindungi Anak


Dalam momentum Hari Jadi Polwan ke-78, keberadaan Polwan di tengah masyarakat diharapkan semakin memberikan warna dalam pelayanan kepolisian yang humanis, khususnya dalam memberikan perlindungan terhadap kelompok rentan, termasuk anak-anak.


Polwan tidak hanya dituntut hadir dalam tugas-tugas kepolisian, tetapi juga mampu menjadi sosok yang dekat dengan masyarakat, mau mendengar persoalan yang dihadapi anak dan keluarga, serta memberikan edukasi mengenai berbagai bentuk ancaman yang dapat mengganggu tumbuh kembang generasi muda.


“Polwan hadir untuk mendengar, melindungi, dan menciptakan rasa aman bagi setiap anak,” menjadi salah satu pesan utama dalam kampanye tersebut.


Pendekatan humanis seperti ini dinilai penting karena persoalan bullying sering kali tidak terlihat secara langsung. Anak yang menjadi korban bisa saja memilih diam, menarik diri dari lingkungan, mengalami penurunan kepercayaan diri, atau enggan menceritakan apa yang dialaminya kepada orang tua maupun guru.


Karena itu, lingkungan yang aman dan terbuka menjadi salah satu kunci dalam mencegah dampak yang lebih serius.


Dirlantas: Ciptakan Lingkungan Aman dan Bebas Bullying


Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Sumatera Barat Kombes Pol Reza Chairul Akbar Sidiq, S.H., S.I.K., M.H., menegaskan bahwa peringatan Hari Jadi Polwan ke-78 hendaknya tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata.


Menurutnya, momentum tersebut harus dimanfaatkan untuk memperkuat kepedulian seluruh personel Polri terhadap persoalan yang berkembang di tengah masyarakat, termasuk perlindungan terhadap anak dari tindakan bullying.


“Peringatan Hari Jadi Polwan ke-78 ini menjadi momentum bagi kita untuk semakin memperkuat kehadiran Polri di tengah masyarakat. Salah satunya dengan memberikan perhatian terhadap persoalan bullying yang dapat memberikan dampak serius terhadap perkembangan dan kesehatan mental anak,” ujar Reza dalam kutipan yang disiapkan untuk materi pemberitaan.


Ia menekankan, anak-anak merupakan bagian penting dari masa depan bangsa sehingga membutuhkan lingkungan yang aman, nyaman dan mendukung proses tumbuh kembang mereka.


“Anak-anak harus mendapatkan ruang yang aman untuk belajar, bermain, berinteraksi dan berkembang. Jangan sampai tindakan yang dianggap sebagai candaan justru menimbulkan luka psikologis yang terbawa hingga dewasa,” katanya.


Reza juga mengajak seluruh pihak untuk tidak menganggap remeh tindakan perundungan, baik yang terjadi secara langsung di lingkungan sekolah maupun yang berlangsung melalui media sosial dan ruang digital.


Menurutnya, perkembangan teknologi membuat bentuk bullying semakin beragam. Perundungan tidak lagi hanya berupa ejekan, intimidasi atau kekerasan secara langsung, tetapi juga dapat terjadi melalui pesan, unggahan, komentar, penyebaran foto maupun video, hingga tindakan mempermalukan seseorang di ruang digital.


Pencegahan Harus Dimulai dari Lingkungan Terdekat


Lebih lanjut, Reza menilai upaya mencegah bullying harus dimulai dari lingkungan terdekat anak.

Orang tua memiliki peran penting dalam membangun komunikasi yang terbuka dengan anak. 


Begitu pula guru dan pihak sekolah yang diharapkan mampu menciptakan lingkungan pendidikan yang aman serta responsif terhadap setiap indikasi perundungan.


“Pencegahan bullying membutuhkan kepedulian bersama. Orang tua, guru, sekolah, masyarakat dan kepolisian harus saling bersinergi. Yang paling penting adalah jangan membiarkan anak menghadapi persoalan seorang diri,” ungkapnya.


Ia berharap apabila menemukan atau mengetahui adanya tindakan bullying, masyarakat tidak memilih diam. Persoalan tersebut perlu disampaikan kepada pihak yang dapat memberikan penanganan sehingga tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.


Di sisi lain, anak-anak juga perlu diberikan pemahaman bahwa meminta bantuan ketika mengalami perundungan bukanlah sebuah kelemahan.


Menurut Reza, keberanian untuk bercerita dan meminta pertolongan merupakan langkah penting dalam menghentikan rantai bullying.


Polri Dorong Pendekatan Humanis


Kegiatan dan pesan sosial yang diusung dalam peringatan Hari Jadi Polwan ke-78 juga sejalan dengan semangat pelayanan kepolisian yang mengedepankan pendekatan humanis.


Polwan sebagai bagian dari institusi Polri diharapkan mampu menjadi figur yang dapat diterima masyarakat, khususnya oleh anak-anak dan perempuan.


Kehadiran Polwan di tengah masyarakat diharapkan bukan hanya ketika terjadi persoalan, tetapi juga melalui kegiatan preventif dan edukatif.


Dengan pendekatan tersebut, polisi dapat ikut membangun kesadaran sejak dini mengenai pentingnya menghormati sesama, menjaga pergaulan, menyelesaikan persoalan tanpa kekerasan serta menggunakan media sosial secara bijak.


Dirlantas Polda Sumbar juga berharap semangat Hari Jadi Polwan ke-78 dapat menjadi pengingat bagi seluruh personel untuk terus memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.


“Harapan kami, melalui momentum Hari Jadi Polwan ke-78 ini, semakin tumbuh kesadaran bersama untuk menciptakan lingkungan yang aman, ramah dan bebas dari bullying. Kita ingin anak-anak tumbuh dengan rasa percaya diri, mendapatkan perlindungan dan memiliki masa depan yang baik,” tutur Reza.


Wujudkan Lingkungan Aman, Bebas Bullying


Peringatan Hari Jadi Polwan ke-78 pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang perjalanan pengabdian Polisi Wanita di tubuh Polri, tetapi juga tentang bagaimana keberadaan Polwan dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.


Pesan untuk menghentikan bullying menjadi salah satu bentuk kepedulian terhadap generasi penerus bangsa.


Masyarakat diajak untuk tidak menjadikan perundungan sebagai sesuatu yang dianggap biasa. Candaan yang berlebihan, penghinaan, intimidasi, pengucilan maupun kekerasan dapat memberikan dampak yang tidak selalu terlihat secara kasat mata.

Karena itu, setiap orang memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang aman.


“Mari bersama wujudkan lingkungan yang aman dan bebas bullying,” menjadi pesan yang ditekankan dalam momentum Hari Jadi Polwan ke-78.


Dengan sinergi antara kepolisian, sekolah, keluarga dan masyarakat, diharapkan anak-anak di Sumatera Barat dapat tumbuh dalam lingkungan yang lebih aman, sehat dan positif.


Semangat tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya menghadirkan Polri yang semakin dekat dengan masyarakat, responsif terhadap persoalan sosial, serta mampu memberikan perlindungan kepada generasi muda sebagai aset penting bangsa. (Ijha)

Posting Komentar

0 Komentar