Dari Kisah Tupai Janjang hingga Talempong Uwaik-Uwaik, Warisan Seni Agam Tampil di Saraso Fest 2026

 


Padang - Ragam kesenian tradisional Minangkabau tampil memukau dalam panggung Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Saraso Fest 2026 di Taman Budaya Sumatera Barat, Senin (28/9/2026) malam.


Pada malam pembukaan tersebut, dua kesenian tradisional asal Kabupaten Agam tampil membawa cerita, musik, sekaligus nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat Minangkabau.


Pertunjukan pertama adalah Tupai Janjang yang dibawakan Sanggar Seni Tupai Janjang Nagari Tigo Koto Silungkang, Kabupaten Agam.


Tupai Janjang bukan sekadar pertunjukan seni. Kesenian ini mengangkat sebuah cerita tentang perjalanan hidup sepasang suami istri, Datuak Bandaro dan Puti Silinduang Bulan, yang telah lama menikah tetapi belum juga dikaruniai keturunan.


Setelah bertahun-tahun berdoa dan berusaha, Puti Silinduang Bulan akhirnya mengandung dan melahirkan seorang anak.


Namun, kebahagiaan tersebut berubah menjadi kebingungan. Anak yang lahir memiliki wujud dan tingkah laku yang menyerupai seekor tupai. Ia digambarkan lincah melompat ke sana kemari, bagaikan menaiki sebuah janjang atau tangga.


Dari situlah cerita Tupai Janjang berkembang. Perjalanan hidup sang anak menjadi bagian utama pertunjukan, mulai dari menghadapi penolakan, mencari jati diri, hingga menemukan makna penerimaan dalam kehidupan.


Cerita tersebut kemudian membawa pesan tentang penerimaan, takdir dan kasih sayang orang tua yang tidak terlepas dari nilai-nilai kehidupan dalam tatanan adat Minangkabau.


Setelah kisah Tupai Janjang, panggung PKD Saraso Fest 2026 berlanjut dengan penampilan Talempong Uwaik-Uwaik dari Sanggar Payah Saiyo, Tanjung Raya, Kabupaten Agam.


Talempong Uwaik-Uwaik merupakan kesenian musik tradisional Minangkabau yang tumbuh dan berkembang di Kabupaten Agam, khususnya di Nagari Paninjauan, Kecamatan Tanjung Raya.


Pertunjukan ini menghadirkan musik perkusi melodis dengan keunikan tersendiri. Secara sosiologis, Talempong Uwaik-Uwaik identik dengan perempuan lanjut usia yang dalam bahasa setempat disebut uwaik-uwaik.


Di atas panggung, ketukan talempong menjadi kekuatan utama pertunjukan. Para pemain memainkan alat musik secara bersama-sama, menghadirkan irama tradisional yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.


Menariknya, Sanggar Payah Saiyo telah berdiri selama sekitar 10 tahun dan hingga kini masih bertahan dalam menjaga kesenian tersebut.


Sanggar itu memiliki tujuh anggota. Salah seorang anggotanya bahkan telah berusia 77 tahun.


Kesenian tersebut juga diwariskan melalui proses belajar bersama. Para anggota belajar dan memainkan talempong sambil duduk, mempertahankan cara penyajian yang menjadi bagian dari tradisi mereka.


Fionika, salah seorang peserta, mengatakan keberadaan sanggar selama satu dekade menjadi bagian dari upaya mempertahankan kesenian Talempong Uwaik-Uwaik agar tetap hidup di tengah masyarakat.


Talempong Uwaik-Uwaik juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTBI) oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.


Dua pertunjukan asal Agam tersebut memperlihatkan kekayaan kesenian tradisional Minangkabau. Tupai Janjang menyampaikan cerita tentang perjalanan hidup, penerimaan dan kasih sayang, sementara Talempong Uwaik-Uwaik memperlihatkan bagaimana musik tradisional tetap hidup melalui para perempuan lanjut usia yang terus menjaga tradisi.


Melalui panggung PKD Saraso Fest 2026, kedua kesenian tersebut tidak hanya hadir sebagai tontonan, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali kekayaan budaya Minangkabau kepada masyarakat dan generasi berikutnya. (**)

Posting Komentar

0 Komentar