Terkait Siswa Keroyok Guru, Ini Kronologi Lengkapnya

  


Jambi - Viral di media sosial kasus pengeroyokan yang dialami seorang guru di SMK Negeri 3 Berbak di Tanjung Jabung Timur, Jambi.


Agus Saputra, guru yang dikeroyok sejumlah siswanya akhirnya melapor ke Polda Jambi.


Guru mata pelajaran Bahasa Inggris itu menjalani pemeriksaan  Kamis (15/1/2026) malam.


Agus melapor meski sebelumnya, Agus dan sejumlah siswa sudah menyelesaikan persoalan dengan cara kekeluargaan.


#KronologiGuru 


Agus Saputra  mengungkapkan kejadian bermula saat dirinya ditegur seorang siswa dari kelas, saat proses belajar mengajar berlangsung, sekira pukul 09.00 hingga 10.00 WIB.


Menurutnya, teguran itu bernada tidak sopan dan sempat direkamnya


“Dia menegur dengan tidak sopan dan tidak hormat kepada saya dengan meneriakan kata yang tidak pantas saat dia belajar,” katanya, pada Rabu (14/01/2026). 

 

Agus menuturkan, dirinya masuk ke kelas siswa tersebut dan menanyakan terkait hal itu.


“Kemudian, saya masuk ke kelas saya tanyakan siapa yang memanggil saya seperti itu,” tuturnya.


 “Dia langsung menantang saya, katanya seperti itu. Akhirnya saya refleks satu kali menampar muka dia itulah kejadiannya awal,” lanjutnya.


Agus menjelaskan, pada jam istirahat dirinya ditantang kembali oleh siswa tersebut.


Kejadian tersebut berlarut hingga pukul 13.00 WIB sampai 16.00 WIB.


“Terjadi mediasi sebelum ada pengeroyokan terhadap saya. Saya sudah berusaha tenang. Pada saat itu saya masih berada di dalam kantor dengan ada CCTV sebagai pembuktian,” jelasnya.


Agus menerangkan, saat mediasi, dirinya menanyakan apa keinginan siswa tersebut.


“Mereka meminta saya meminta maaf untuk hal yang tidak saya lakukan. Kemudian saya membeli alternatif kepada mereka, terangnya. 

 

Jalan alternatif itu berupa pembuatan petisi. 


“Membuat petisi, kalau seandainya mereka tidak menginginkan saya lagi untuk mengajar di sana. Atau, mereka mengubah perangai (perilaku) mereka menjadi lebih baik lagi dari sekarang,” ujarnya.


Agus menambahkan, dirinya sempat diajak komite sekolah seusai mediasi.


“Saya diajak komite masuk ke ruang kantor, di saat itulah terjadi pengeroyokan oleh anak kelas 1, kelas 2, kelas 3,” ucapnya.


“Ada videonya, ini sudah viral mungkin. Kemudian juga setelah itu, ini kan banyak nih yang viral di video itu, ada juga yang bawa senjata kita jadinya,” pungkasnya.


#KronologiSiswa


Muhammad Lupi Fadila, salah satu siswa yang terlibat, membeberkan kronologi versinya yang memicu kemarahan massa siswa.


Kemarahan itu hingga berujung pada aksi kekerasan di area kantor sekolah.


Menurut Lupi, ketegangan bermula dari kesalahpahaman di ruang kelas saat jam pelajaran hampir usai.


Situasi kelas yang bising membuat Lupi spontan berteriak meminta rekan-rekannya diam.


Namun hal itu justru memicu reaksi keras dari sang guru.


Lupi mengaku terkejut saat guru tersebut tiba-tiba masuk ke kelas tanpa permisi kepada guru yang sedang mengajar dan langsung mencari siapa yang berteriak.


"Tiba-tiba beliau langsung masuk ke dalam kelas tanpa permisi ke guru yang ada di dalam, langsung tanya 'siapa yang bilang woi?'. Terus saya jawab 'saya Prince' kayak gitu, terus spontan saya ke depan langsung ditampar," ungkap Lupi.


Menariknya, penggunaan panggilan "Prince" ternyata merupakan permintaan khusus dari sang guru sendiri.


Lupi menjelaskan bahwa guru tersebut kerap marah jika disapa dengan sebutan "Bapak" dan lebih memilih dipanggil dengan sebutan tersebut.


Situasi semakin memanas ketika para siswa menuntut permintaan maaf sang guru karena dianggap telah menghina orang tua salah satu siswa.


Meski sudah dimediasi oleh guru lain dan komite sekolah untuk berpidato di depan siswa, sang guru justru membahas hal lain yang memicu kekecewaan.


Puncak pengeroyokan terjadi saat sang guru dibawa ke kantor oleh Bapak Komite.


Lupi mengeklaim sang guru justru mengejek dan tersenyum sinis ke arah para siswa.


Saat Lupi mendekat untuk meminta kejujuran, ia mengaku justru mendapat bogem mentah.


"Pas saya sampai depan muka dia, dia langsung meninju saya bagian hidung. Pas dia ninju itu, kebetulan kawan saya yang di dekat-dekat dia itu lihat semua. Spontan kawan saya langsung mengeroyok dia. Sebenarnya kalau enggak ada dia ninju duluan, enggak ada pengeroyokan itu," tegas Lupi.


Lupi menekankan bahwa aksi pengeroyokan tersebut merupakan reaksi spontan rekan-rekannya setelah melihat dirinya ditampar di kelas dan dipukul di bagian hidung saat berada di area kantor.


Sc : Posmetro Medan

Posting Komentar

0 Komentar